sejarah tentang kesenian karawitan


Sejarah kesenian karawitan berawal dari kerajaan-kerajaan Hindu-Buddha di Jawa, berkembang pesat di bawah pengaruh Islam dan Hindu-Buddha, serta memiliki fungsi penting sebagai sarana upacara adat maupun hiburan. Secara etimologis, kata "karawitan" berasal dari bahasa Jawa "rawit" yang berarti halus dan lembut, mencerminkan kelembutan perasaan dalam seni musik gamelan.

Asal-usul dan perkembangan

Masa Kerajaan Hindu-Buddha: Karawitan mulai tumbuh dan berkembang di Jawa, dengan gamelan sebagai intinya, terutama pada zaman kerajaan kuno dan berkembang pesat di bawah kerajaan seperti Majapahit.

Masa Kerajaan Mataram: Di bawah Kerajaan Mataram, karawitan mengalami perkembangan pesat, khususnya gaya Yogyakarta dan

Surakarta, baik dari segi jenis gamelan maupun fungsi. Karawitan berkembang dari sekadar sarana upacara menjadi hiburan.

Pengaruh dan Penyesuaian: Seiring waktu, karawitan terus menyesuaikan diri dengan kondisi zaman dan budaya masyarakat Jawa. Pengaruh Islam juga turut berperan dalam perkembangannya.

Perkembangan di masa modern: Dengan munculnya lembaga pendidikan seni seperti perguruan tinggi dan sanggar, karawitan tidak lagi terbatas di lingkungan keraton, tetapi menyebar ke masyarakat umum. Tokoh-tokoh seniman seperti Ki Narto Sabdo dan Ki Cokrowarsito juga berperan dalam menciptakan komposisi gending baru yang lebih merakyat. 

Karakteristik karawitan

Instrumen: Karawitan sangat erat dengan alat musik gamelan.

Tangga nada: Menggunakan tangga nada non-diatonis, yaitu slendro (lima nada dalam satu oktaf dengan jarak hampir sama) dan pelog (lima atau tujuh nada dengan jarak tidak sama).

Fungsi: Selain sebagai hiburan, karawitan juga memiliki fungsi edukatif dan religius, digunakan dalam berbagai upacara adat, keagamaan, serta sebagai pengiring pertunjukan seperti wayang kulit dan tari klasik.

Nilai filosofis: Kesenian ini kaya akan nilai historis, filosofis, dan juga mengajarkan nilai-nilai moral dan falsafah hidup. 

Alat musik utama dalam karawitan Jawa adalah gamelan, yang terdiri dari berbagai instrumen seperti gendang, bonang, saron, kenong, gong, kempul, gambang, siter, dan gender. Instrumen lainnya termasuk rebab, suling, dan kemanak. 

Instrumen melodis dan harmonis 
  • Gong dan kempul: Alat musik pukul besar yang memberikan pukulan tanda akhir frase atau akhir lagu. 
  • Kenong: Alat musik pukul yang berfungsi untuk menegaskan irama dan batas-batas gatra. 
  • Bonang: Instrumen pukul dengan beberapa nada yang digunakan untuk mengisi melodi. 
  • Saron: Instrumen jenis bilahan logam yang menjadi pembawa melodi pokok. 
  • Demung dan saron: Terdapat dua jenis saron, yaitu demung (nada lebih rendah) dan saron (nada lebih tinggi). 
  • Gender dan slenthem: Instrumen jenis bilahan logam yang menghasilkan suara yang lebih halus. 
  • Gambang: Instrumen bilah kayu yang menciptakan suara yang unik dan khas. 
  • Siter: Instrumen dawai yang dipetik untuk mengiringi melodi. 
Instrumen ritmis dan pengatur
  • Kendang: Mengatur tempo dan irama musik.
  • Gendang: Instrumen pukulan yang mengatur irama musik.
  • Kethuk dan kempyang: Instrumen pukul yang berfungsi untuk menjaga kestabilan tempo.
  • Kemanak: Instrumen berbentuk seperti cekungan logam kecil yang dipukul untuk menciptakan suara yang khas. 
Instrumen lain
  • Rebab: Alat musik gesek yang berperan penting sebagai pemurba lagu. 
  • Suling: Alat musik tiup yang terbuat dari bambu atau kayu, menciptakan melodi yang indah.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

pengetahuan blog

sejarah tentang kesenian tari

pengertian tentang makanan tradisional jawa tengah