sejarah tentang kesenian tari
Zaman prasejarah
Fungsi: Tari digunakan untuk upacara keagamaan dan ritual adat, serta sarana komunikasi, seperti dalam pemujaan terhadap alam dan roh leluhur.
Ciri-ciri: Gerakan sangat sederhana, fokus pada peniruan alam atau binatang (misalnya, menirukan gerakan hewan saat berburu), menggunakan instrumen sederhana, dan riasan yang simpel.
Masa kerajaan Hindu-Buddha
Pengaruh: Dipengaruhi kuat oleh budaya India, di mana tari menjadi bagian penting dalam upacara keagamaan dan adat istiadat, seperti di Mesir kuno dan tradisi tari klasik India.
Fungsi: Terjadi perkembangan tari yang lebih artistik, seperti yang terlihat dalam seni tari klasik India.
Masa kerajaan Islam
Fungsi: Seni tari digunakan untuk sarana penyebaran agama Islam. Tarian yang ada disesuaikan dan dimodifikasi agar sesuai dengan ajaran Islam.
Jenis tari: Muncul jenis-jenis tarian baru yang menjadi bagian dari kebudayaan kerajaan, seperti Bedhaya dan Serimpi.
Masa penjajahan
Kondisi: Seni tari mengalami kemunduran akibat kekacauan sosial dan politik.
Fungsi: Meskipun demikian, seni tari tetap terpelihara di kalangan istana untuk upacara adat dan budaya.
Karya baru: Muncul tarian-tarian yang terinspirasi dari perjuangan melawan penjajah, contohnya Tari Prawiroguni dari Jawa Tengah yang menceritakan keberanian prajurit.
Setelah kemerdekaan
Kondisi: Perkembangan seni tari membaik dan meluas ke seluruh kalangan, termasuk anak muda.
Fungsi: Tari menjadi hiburan rakyat, bagian dari upacara adat dan keagamaan, serta sebagai media promosi budaya Indonesia, seperti Tari Piring yang terkenal.
Perkembangan: Mulai terjadi perpaduan antara tari tradisional dan tari modern.
Tari adalah ekspresi jiwa manusia yang diwujudkan melalui gerakan tubuh berirama, disusun secara artistik dalam ruang dan waktu tertentu, dengan tujuan menyampaikan pesan atau perasaan. Gerakan ini berbeda dari aktivitas sehari-hari dan biasanya diiringi musik, meskipun ada juga tarian yang dilakukan tanpa musik. Tari menggabungkan tiga unsur utama: wiraga (raga/gerak), wirama (irama), dan wirasa (rasa/ekspresi).
Unsur-unsur dasar tari:
Wiraga (Raga): Gerakan tubuh yang menjadi dasar tarian, baik menggunakan seluruh tubuh maupun bagian tertentu.
Wirama (Irama): Ketukan atau ritme yang mengatur gerakan penari, seringkali diiringi musik.
Wirasa (Rasa): Ekspresi perasaan dan emosi yang disampaikan melalui gerakan dan ekspresi wajah.
Jenis dan fungsi tari
Tarian dapat dikategorikan berdasarkan jenisnya dan fungsinya:
Jenis Tarian:
Tari Rakyat: Tarian yang berkembang di masyarakat umum.
Tari Klasik: Tarian yang berkembang dari lingkungan keraton atau bangsawan dan memiliki aturan baku.
Tari Kreasi Baru: Tarian yang dikembangkan dari tarian tradisional namun dengan sentuhan baru.
Fungsi Tarian:
Upacara: Sebagai bagian dari ritual keagamaan atau upacara adat, seperti tarian ritual Bali dan Papua.
Hiburan: Untuk tontonan dan sarana rekreasi, seperti tari partisipatif (sosial atau berkelompok).
Pertunjukan: Sebagai seni teater yang menceritakan sebuah kisah di atas panggung, seperti balet.
Pendidikan: Sebagai media untuk mempelajari dan melestarikan budaya.
Alat yang digunakan untuk menari disebut properti tari, yang meliputi berbagai benda seperti selendang, kipas, topeng, piring, pedang, tombak, payung, hingga sapu tangan. Alat-alat ini berfungsi untuk mendukung penampilan, memperkaya gerakan, dan menyampaikan makna cerita dalam tarian tersebut.
contoh properti tari:
Selendang: Sering digunakan dalam tarian Jawa seperti Tari Srimpi, melambangkan keanggunan dan membantu menyampaikan cerita.
Kipas: Digunakan dalam tarian seperti Tari Pakarena dari Sulawesi Selatan.
Topeng: Merupakan properti utama dalam tari topeng dan tarian lain seperti Reyog.
Piring: Digunakan dalam tarian seperti Tari Piring, seringkali berwarna keemasan sebagai simbol kebijaksanaan.
Pedang: Digunakan dalam tarian seperti Tari Caci di Nusa Tenggara Timur.
Tombak: Digunakan dalam tarian seperti Tari Lawung dan Tari Cangget.
Payung: Digunakan dalam Tari Payung dari Sumatera Barat untuk melambangkan perlindungan.
Sapu tangan: Digunakan dalam tarian seperti Tari Sapu Tangan, bisa dipegang atau disematkan di pinggang.
Contoh tari tradisional dan asalnya:
Tari Saman: Aceh
Tari Tor-tor: Sumatera Utara
Tari Piring: Sumatera Barat
Tari Jaipong: Jawa Barat
Tari Pendet: Bali
Tari Kecak: Bali
Tari Gambyong: Jawa Tengah
Tari Remo: Jawa Timur
Tari Reog: Jawa Timur
Tari Zapin: Kepulauan Riau
Tari Sigeh Penguten: Lampung
Tari Sekapur Sirih: Jambi
Tari Gantar: Kalimantan Timur
Tari Kipas Pakarena: Sulawesi Selatan
Tari Legong: Bali

Komentar
Posting Komentar